Secuil Catatan dari Kuliah Prof. Josef Prijotomo

by kamiarsitekjengki

Oleh : Astri Isnaini Dewi

Arsitektur pada dasarnya adalah berupa tanggapan-tanggapan, berupa reaksi.  Dan tidak ada arsitektur yang tidak berada pada suatu tempat yang pasti, arsitektur selalu berada dalam suatu petak bumi yang akurat. Bukan di atmosfer yang melayang, atau di ruang angkasa. Maka sudah seharusnya arsitektur itu berupa reaksi/tanggapan terhadap suatu petak bumi, terhadap alam dan lingkungan tempatnya berada.

Begitu pula dalam Arsitektur Indonesia, haruslah memperhatikan dengan seksama yang dimaksudkan dengan petak bumi tersebut; kenapa? Pertama, karena arsitektur memang berupa tanggapan terhadap sekitarnya, berupa reaksi kepada alam. Kedua, sekolah arsitektur di Indonesia menganut faham internasionalisme atau universalisme, yang kebarat-baratan, yang tidak memberikan tempat pada petak bumi sebagai sebuah faktor kepastian yang mempengaruhi arsitektur. Maka apabila kelak kita memperhatikan faktor petak bumi itu tadi, melalui sebuah analisa, itu mampu mengubah faham internasionalisme di pola pikiran masyarakat Indonesia mengenai arsitektur dan kembali ke hakekatnya.

Indonesia memiliki bentang kepulauan yang sama dengan benua Amerika dan Eropa, namun kita memiliki area laut yang lebih besar presentasenya daripada kepulauan. Maka pantaskah kita membangun bangunan-bangunan yang luas seperti Eropa dan Amerika, dengan ukuran kepulauan Indonesia yang lebih kecil dibandingkan negara-negara lain di kawasan tersebut? Jawabannya TIDAK.

Membangun bangunan berskala besar tidak mencerminkan ke-Indonesia-an apabila ditelaah dari unsur kepulauan kita. Dan dengan populasi penduduk yang meningkat, maka solusi arsitektural terhadap petak-petak bumi sesungguhnya adalah, ‘raihlah puncak angkasa’, tinggikan bangunanmu, bukan meluaskan area lahanmu. Pendahulu sudah mengajarkan bahwa bangunan nusantara rata-rata adalah bangunan panggung, bangunan yang meninggi, bahkan hingga empat lantai dengan konstruksi ikat. Dan dengan hal itu, dengan ilmu konstruksi yang semakin hebat era ini, apakah kita masih terbelenggu oleh mindset masyarakat barat, atau berdiri di kaki sendiri, dan mengembangkan konstruksi bangunan tinggi yang lebih hebat dari konstruksi ikat yang mampu membuat bangunan empat lantai?

Lalu dari konteks laut, dimana ia mampu menjadi pemisah dan penyatu pada kepulauan Indonesia, dan hal tersebut menjadi koneksi pada ciri arsitektur Indonesia, berkaitan dengan kebhinekaan rupa arsitektur Indonesia. Karena dari sudut laut sebagai pemisah area, setiap kepulauan yang dipisahkan laut-laut Indonesia memiliki kondisi cuaca yang sedikit berbeda. Ketika terjadi pemisahan area, maka karakter masyarakat pun berbeda-beda hingga terjadi karakter penyelesaian arsitektur yang berbeda pula. Meskipun ketika dipandang dari sudut sebagai penyatu area, maka ketika dibutuhkan adanya transportasi dari pulau ke pulau, mulai tumbuhlah kawasan pelabuhan, kawasan pasar apung, atau berbagai arsitektur yang berdiri di atas lautan. Untuk itu, karakter arsitektur pun dibangun oleh kondisi kepulauan negara kita.

Selain itu, kita berada di daerah garis khatulistiwa, yang mengakibatkan Indonesia memiliki dua musim dengan iklim tropis. Sehingga, seharusnya kita tidak memisahkan diri dari iklim, namun membina keharmonisan dengan iklim. Mengapa begitu? Karena ketika memiliki empat musim, maka manusia membutuhkan proteksi yang lebih untuk menghadapi kondisi cuaca empat musim. Sedangkan pada dua musim, manusia mampu berselimut dengan alam, sehingga arsitektur pun menjadi mediatornya.

Bagaimana arsitektur mampu menjadi mediator manusia dan iklimnya? Pada dasarnya arsitektur dua musim hanya membutuhkan sebagai unsur utama bangunannya. Begitu pula Indonesia yang sesungguhnya tidak membutuhkan dinding, Indonesia hanya membutuhkan atap untuk membentuk sebuah daerah bayangan. Karena daerah bayangan itulah ciri khas Arsitektur Indonesia. Penggunaan dinding pada arsitektur dua musim adalah dinding yang mampu bernafas; dinding yang memiliki bukaan. Bukan dinding solid yang dimaksudkan sebagai pelindung, tapi untuk menyaring silau dan mengurangi frekuensi angin. Ibaratnya tidak lebih dari kacamata hitam, yang menyaring cahaya dan angin pada mata. Angin keras disaring menjadi angin sepoi-sepoi, cahaya yang menyengat dan menyilaukan menjadi cahaya yang dibutuhkan. Dinding tidak lebih dari  tirai. (Pertanyaan ‘apa arsitektur Indonesia tidak membutuhkan dinding?’ dilontarkan oleh Christ Siwi)

Apa itu definisi pasti dari daerah bayangan? Yaitu, seberapa luas daerah bayangan yang dihasilkan oleh atap itulah daerah aktivitas kita. Bukan berdasarkan aktivitas, kita membentuk atap. Namun melalui waktu kebutuhan akan aktivitas yang meruang dan membentuk kekosongan, maka kita membentuk atap sebagai penyesuaian. (Pertanyaan ‘apa yang dimaksud dengan daerah bayangan?’ dilontarkan oleh Nisma Hamid Baraja)

Apabila pada arsitektur empat musim, ruangan diukur berdasarkan aktivitas. Namun pada dua musim, dihitung waktu ke waktu kita beraktivitas apa, lalu diukur luasannya, dan dinding dan atap sebagai pembatas saja. Pada akhirnya definisi kita mengenai bangunan pun bergeser. Bahkan di Indonesia perapian pun sebagai pengawet bangunan, asap sebagai pengawet bahannya, dan untuk menghangatkan ruangan untuk manusia tidur. Dan apabila kita memperhatikan kondisi Indonesia silam, maka itulah arsitektur nusantara. Dulu tidak diperlukan penanganan khusus terhadap banjir karena manusia masih sangat ramah lingkungan. Namun para pendahulu sudah memperkirakannya dengan mendirikan panggung, selain untuk memasukkan angin dari area bawah. Kedepannya, mungkin, kita membutuhkanoverlap untuk membentuk daerah bayangan dan pelindung pada musim kemarau dan penghujan. Ataupun, kita mungkin membutuhkan konsep rumah di dalam kebun, sebagai sumber angin. Atau rumah panggung, sebagai pelindung dari banjir dan lumpur. Namun pada intinya, arsitektur nusantara harus ramah gempa. Itulah Indonesia. (Pertanyaan ‘apa ciri arsitektur Indonesia’ dilontarkan oleh Linda Widiachristy; dan pertanyaan ‘kalo banjir?’ oleh Oudyziea Ais Samodra)

Tulisan dibuat oleh Astri Isnaini Dewi , satu tahun yang lalu
dikutip dari http://astrisnaini.tumblr.com/post/43912734366
Advertisements