Menelusur Arsitektur Jengki di Surabaya

by kamiarsitekjengki

Oleh: Rifandi Septiawan Nugroho

Rumah Salim Martak 1

Masa awal kemerdekaan menjadi titik balik yang membawa pengaruh besar bagi bangsa Indonesia. Salah satunya ditunjukan dengan pembangunan nasional yang terjadi serentak di kota-kota besar. Saat itu, Soekarno menginginkan sebuah identitas nasional yang baru untuk menunjukan kemampuan Indonesia di mata dunia. Di tengah hiruk pikuk mega proyek yang dicanangkan bung Karno, ada sebuah gaya yang menyelinap masuk secara militan ke dalam bangunan-bangunan tersebut, yaitu sebuah gaya usil yang kelak disebut “jengki”. Beberapa peninggalannya tersimpan dengan baik dalam catatan dokumentasi, ada pula yang terlupakan.

Gaya arsitektur jengki tersebar di Indonesia pada tahun 1950 hingga 1960an. Kehadirannya menyelinap secara sporadis ke banyak wilayah di Indonesia dalam waktu yang berdekatan. Jika merujuk pada pendapat Prof. Josef Prijotomo, sebagian besar pencetus lahirnya gaya jengki adalah lulusan STM yang pernah menjadi aannemer (ahli bangunan) di perusahaan Belanda pada saat arsitek Belanda harus pulang kampung ke negerinya. Semangat untuk berdiri di kaki sendiri tanpa bergantung pada bangsa asing menimbulkan jiwa “memberontak”, menjadi dasar mengubah keteraturan elemen bangunan peninggalan kolonial yang biasanya berlandaskan fungsionalism. Pengetahuan yang dimiliki anak-anak lulusan STM ini hanya terbatas pada pengetahuan tipe dan bentuk bangunan, belum menguasai hingga ke ilmu merancang bangunan.

Setelah sekitar satu dekade masa kejayaan jengki kemudian lahir insinyur-insinyur baru dari beberapa perguruan tinggi dalam negeri. Gaya jengki kembali tenggelam dan hanyut terbawa oleh arus ilmu rancang bangun yang diajarkan kepada arsitek-arsitek baru lulusan perguruan tinggi tersebut. Oleh karena itu, tidak terlalu banyak bangunan jengki yang sempat didirikan apalagi bertahan dalam jangka waktu yang begitu singkat.

Sebuah narasi yang sederhana untuk menggambarkan semangat jengki – jika merdeka berarti bebas, maka itulah kata yang tepat untuk menggambarkan gaya tersebut, sebuah “kebebasan” berkespresi.

Saya menelusuri awal mula penggunaan istilah ini dan akhirnya menemukan beberapa versi. Ada yang bilang, bahwa istilah jengki berasal dari tren yang sedang terjadi di Indonesia pada saat itu (sepeda, celana, dan perabot), ada yang bilang asalnya dari istilah yankee di Amerika, ada juga yang hanya dapat menggambarkan dengan kata “miring-miring”. Akhirnya saya merasa istilah arsitektur jengki selalu memancing pertanyaan tanpa jawaban pasti, sama seperti ekspresi anehnya yang selalu seru untuk ditelusuri.

Koleksi jengki di Surabaya

Karena arsitektur jengki hanya memiliki waktu yang singkat untuk menunjukkan dirinya, tidak semua kota di Indonesia sempat disinggahi olehnya. Beruntunglah Surabaya menjadi salah satu kota yang memiliki koleksi ragam bangunan jengki dengan rupa bangunan yang tergolong unik. Beberapa di antaranya sempat saya telusuri bersama teman-teman. Berikut ini beberapa penelusuran yang sempat saya simpan dalam catatan.

Pabrik Coklat di jalan Kalisari dekat Taman Makam Pahlawan kawasan THR misalnya. Pabrik ini menjadi destinasi favorit setiap kali saya harus menceritakan jengki pada orang yang menginginkannya. Pabrik coklat Cendrawasih memiliki cerita singkat yang cukup relevan jika dihubungkan dengan asal-usul jengki sendiri.

Kantor Pabrik Cokelat

Bangunan kantor operasional Pabrik Cokelat Tjendrawasih (Dokumentasi KAJ)

Pabrik Cokelat 1

Bangunan Pabrik Cokelat Tjendrawasih (Dokumentasi KAJ)

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, pabrik ini merupakan pabrik roti dengan nama De Ruiter Bread . Bangunan ini awalnya bergaya kolonial pada tahun 1940-1950an. Kemudian dinasionalisasi dan dikelola oleh PT. Multi Aneka Pangan Nusantara (PT. Mapan). Gaya jengki pun dipilih untuk mengubah wajah bangunan ini, menjadi pembeda dari yang sebelumnya ada. Jika melihat fase dimana pabrik coklat ini bertransformasi menjadi perusahaan milik pribumi, bersamaan dengannya gaya jengki baru saja lahir. Terbukti dari olahan bentuk wajahnya yang khas jengki.

Ilustrasi Fasade Bangunan Pabrik Cokelat Tjendrawasih (jurusan arsitektur ITS)

Ilustrasi Fasade Bangunan Pabrik Cokelat Tjendrawasih (Jurusan Arsitektur ITS)

Bentuk yang heroik dan “centil” menghiasi wajah pabrik cokelat. Material beton dilipat, disusun membingkai, ditempeli bebatuan, dilubangi, dibentuk tulisan – semua bagian bidang diberi penegasan secara berlebihan. Saya lebih suka menyebutnya permainan lempeng supaya terdengar lebih sederhana. Semua bagian lempeng diutak atik tanpa mengenal istilah simetri, keterhubungan antar bagian pun tidak begitu dipertimbangkan. Sehingga ekspresi jengki jarang sekali terlihat balance atau bahkan unity. Mungkin lebih tepat dengan pendekatan “pokoknya yang penting keren”.

ragam hias fasade pabrik cokelat

Ragam hias pada fasade bangunan pabrik cokelat (Dokumentasi KAJ)

Pada bangunan pabrik cokelat ini wajah bangunan dijadikan prioritas, hal ini mungkin dilakukan oleh para pengrajin bangunan sebagai usaha untuk menunjukan kemampuannya mengolah bahan bangunan menjadi bentuk yang indah. Terlihat bahwa perlakuan para pengrajin terhadap bahan bangunan yang digunakan tidak hanya sekedar sebagai bahan penutup bangunan. Pertanyaan yang muncul di benak orang yang baru melihat jengki biasanya untuk apa bentuknya dibuat seperti itu? Pada gaya jengki, pertanyaan seperti itu tak perlu dijawab. Karena unsur keindahan memang lebih diutamakan ketimbang fungsinya. “Arsitekturnya saat itu masih sebagai seni, belum mengandung ilmu.”, begitulah penegasan Prof. Josef Prijotomo terhadap gaya jengki.

Jengki lainnya yang menjadi penelusuran saya adalah gerbang Taman Makam Pahlawan yang dekat dari pabrik cokelat. Pada bangunan ini, gaya jengkinya terlihat lebih rapi. Permainan lempengnya berupa beton yang dilipat berulang. Tiap lipatan membentuk kurva yang diulang hingga berhenti di bagian tengah kurva, sebuah penyelesaian yang terlihat tanggung. Kolom penyangganya juga dibuat tidak simetri, karakteristik seperti ini menjadi salah satu khas bangunan jengki yang ada pada beberapa bangunan lainnya seperti Wisma Djendral Ahmad Yani di Gresik.

TMP 2

Gerbang Taman Makam Pahlawan Jl. Kusuma Bangsa (Dokumentasi KAJ)

TMP1

Gerbang Taman Makam Pahlawan Jl. Kusuma Bangsa (Dokumentasi KAJ)

TMP2

Gerbang Taman Makam Pahlawan Jl. Kusuma Bangsa (Dokumentasi KAJ)

Kalau jengki yang rapih begini, saya lebih biasa menyebutnya “jengki sekolahan”. Bentuknya sudah mulai menyentuh aturan komposisi, simetri, keseimbangan, aksentuasi, dan sebagainya yang berupa teori-teori estetika yang dikenal di bangku kuliahan hingga kini.

Jika melihat pada sejarah lahirnya industri semen yang menjadi bahan baku pembuatan beton, seperti ada sebuah hubungan yang dapat ditarik antara bangunan jengki dan industri semen tersebut. Semen Gresik lahir sebagai industri semen pertama di pulau Jawa pada tahun 1957, perusahaan ini menjadi pabrik semen nasional pertama setelah sebelumnya NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (sekarang Semen Padang) lahir di tanah Sumatera dan baru dinasionalisasi pada tahun 1958.

Bertepatan di era itu pula bung Karno membangun banyak karya yang menjadi monumen kecil bagi bangsa. Sebagai sebuah usaha untuk memunculkan karakter nasional, jengki menyelinap secara militan di sela-selanya. Tentu saja ada peran penting dari tukang, di sini peran mereka tidak sebatas sebagai pekerja melainkan disertai komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

“Ketukangan bukanlah wacana tentang alternatif bentuk dan estetika dalam arsitektur. Ia jauh melebihi semua itu. Ia adalah tentang pemahaman untuk mengembalikan arsitektur ke tanahnya yang paling mendasar yakni menjadi keseharian dan bagian penting dari kehidupan masyarakat, baik tantangan persoalan serta potensi-potensi terbaiknya. ” ujar Robin Hartanto, salah satu kurator Pavilliun Indonesia di Venice Biennale.

Proyek Jengki Rumah Tinggal

Selain bangunan skala publik yang disebutkan di awal tadi bangunan rumah tinggal di Surabaya juga banyak yang menjadi bukti nyata wacana tersebut. Beberapa rumah tinggal ini sempat menjadi catatan saya, dalam penelusuran yang dilakukan baik bersama teman-teman maupun sendirian. Menelusuri gaya jengki di rumah tinggal selalu lebih menarik, karena saya dapat merasakan tiap elemen dengan lebih mendetil dengan skala ruang yang lebih intim dibandingkan dengan bangunan publik. Saya juga bisa mendengar langsung cerita dari sang pemilik rumah lewat obrolan hangat. Meskipun skala proyek rumah tinggal tidak seheroik mega proyek di ibukota, bangunan rumah tinggal diselesaikan dengan semangat “ketukangan” yang sama.

Rumah yang paling sering saya kunjungi adalah rumah Ibu Jenderal Soebandi di jalan Doktor Soetomo 73. Rumah ini awalnya adalah peninggalan kolonial, lalu pada tahun 1960 para pengrajin bangunan dari Madiun yang dikepalai oleh bapak Sudrajat merenovasi bagian ruang tamu hingga teras rumah ini dengan gaya jengki, tentunya atas keinginan dari almarhum Kolonel Soebandi.

Keahlian, kecermatan, ketekunan, dan kecemerlangan para pengrajin bangunan dapat ditemui di setiap sisi bangunan. Semuanya diberi penyelesaian yang sangat mendetail. Setiap bagian fasadenya, baik depan atau samping, diisi dengan jenis bebatuan yang berbeda-beda. Bagian jendela depan dihiasi dengan sirip miring-miring, dipadukan dengan sosoran yang asimetris. Seperti khas rumah jengki pada umumnya, gewel atau dinding yang menahan atap diberi roster udara dengan komposisi tertentu sesuai kreasi pengrajinnya.

Penyelesaian gaya khas jengki di fasade bekas rumah kolonial ini sebenarnya masih tanggung, ia meninggalkan beberapa kesan simetris dari bangunan kolonial yang ada sebelumnya. Seperti misalnya pada susunan roster di bagian gewel yang dibuat sama komposisinya. Sehingga saya menyebut bangunan semacam ini disebut dengan sebutan “jengkol” atau jengki setengah kolonial agar lebih menarik.

Rumah Ibu Jenderal 3

Sosoran menerus yang berbeda ketinggian pada fasade rumah Ibu Jenderal (Dokumentasi KAJ)

Rumah Ibu Jenderal 2

Sirip yang membingkai jendela menggunakan bentukan khas jengki, membuat bidang dari unsur garis vertikal dan diagonal (Dokumentasi KAJ)

Rumah Ibu Jenderal 1

Bagian teras rumah Ibu Jenderal (Dokumentasi KAJ)

Pada bagian dalam juga tidak ketinggalan detilnya. Bagian lampu diletakan di sudut-sudut ruangan dengan model penerangan indirect light. Lantai ruangan disusun seperti mozaik yang jika dilihat dari jauh menyerupai karpet. Begitu juga dengan lubang dinding penghubung antar ruangan, terdapat bentuk “miring-miring” ciri khas jengki.

Rumah Ibu Jenderal 6

Lantai mozaik ruang tamu (Dokumentasi KAJ)

Rumah Ibu Jenderal 4

Penerangan indirect light (Dokumentasi KAJ)

Rumah Ibu Jenderal 5

Bingkai dinding miring yang menghubungkan antar ruang (Dokumentasi KAJ)

Rumah tinggal lainnya yang menjadi saksi keuletan tukang adalah rumah “S” di wilayah ampel, susunan bahan bangunan yang dipasang terlihat liar. Bingkai jendela miring-miring tidak simetris pada dinding ditempeli susunan batu yang juga berantakan. Jengki-jengki yang relatif berantakan seperti ini saya biasa menyebutnya “jengki kampungan”, maksudnya seperti karakter sebuah kampung yang biasanya tidak tertata rapi namun memiliki cerita masing-masing yang menurut saya menjadi pusi tersendiri bagi ketidak rapihannya itu. Kemungkinan besar jengki yang liar seperti ini dibangun di awal kemunculannya, sekitar 1950 saat belum ada arsitek lulusan universitas sama sekali.

Rumah S 1

Rumah S di wilayah Ampel (Dokumentasi KAJ)

Rumah S 2

Detil bingkai jendela rumah S (Dokumentasi KAJ)

Jengki kampungan juga dapat ditemukan di daerah perumahan Pucang Anom. Di sana, terdapat beberapa kompleks permukiman yang gaya rumahnya serupa. Kondisinya memang sudah banyak yang sudah diperbaharui dengan model rumah masa kini, namun beberapa peninggalan yang masih tersisa biasanya ada pada bagian gewel dan atap bangunan dimana roster dan teritisan/sosoran masih menghiasi bagian tersebut. Konon katanya kompleks perumahan ini dibangun sesuai permintaan presiden pertama Indonesia untuk memberikan perumahan bagi rakyat di awal kemerdekaan. Alhasil bentuk bangunan yang ada sesuai dengan semangat zamannya, semangat jengki.

Pucang Anom 1

Rumah di wilayah Pucang Anom (Dokumentasi KAJ)

Pucang Anom 3

Rumah di wilayah Pucang Anom (Dokumentasi KAJ)

Ada juga sebuah rumah tinggal yang tampilannya cukup berbeda dari rumah-rumah jengki yang sebelumnya saya telusuri. Sebuah rumah milik seorang bapak bernama Salim Martak di jalan Untung Suropati. Salim Martak membeli Mess Angkatan Darat bergaya Kolonial di lokasi ini pada tahun 1952 dan kemudian pada tahun 1963 ia merenovasinya, memperluas pada bagian depan dan menambahkan lantai kedua dengan desain dari seorang pemborong bernama Pak Timboel. Sebenarnya beliau tidak tahu bahwa desain tersebut mengusung gaya jengki, beliau hanya diberikan beberapa alternatif desain dan beliau memilih gaya ini. Fasade yang berubah total dan kemudian membuat bangunan ini terlihat cantik, rumah ini kemudian sering digunakan sebagai objek foto oleh orang-orang, oleh karena itu Salim Martak masih setia untuk mempertahankan gedung ini.

Rumah Salim Martak 1

Rumah Salim Martak (Dokumentasi KAJ)

Rumah Salim Martak 2

Detil lubang udara rumah Salim Martak (Dokumentasi KAJ)

Salim Martak 3

Bagian belakang rumah Salim Martak (Dokumentasi KAJ)

Salim Martak 4

Tangga di bagian belakang rumah Salim Martak, menggunakan railing khas jengki (Dokumentasi KAJ)

Sentuhan desain pada bagian atap rumah Salim Martak hampir serupa dengan gerbang taman makam pahlawan, menggunakan pengulangan kurva yang berakhir tanggung. Keterampilan tukang diperlihatkan lewat pengerjaan lubang-lubang udara di sekujur fasade bangunan.

Jengki kampung, jengki sekolahan, dan jengki kolonial yang menjadi sebutan-sebutan bagi temuan saya bersama teman-teman di Surabaya hanya untuk mempermudah dalam mengenal bangunan yang ada. Definisi yang diberikan beberapa literatur kurang cukup untuk menjelaskan apa yang kemudian kami temukan pada bangunan yang ada. Hal tersebut mungkin disebabkan karena bangunan jengki yang sangat banyak macamnya dan literatur yang membahas terlalu sedikit untuk menelusuri beragam jengki yang ada. Saya lebih suka menyatakan jengki sebagai evolusi desain yang beradaptasi semangat zaman ketimbang bagaimana wujud fisiknya. Saya juga yakin, meskipun latar belakang ceritanya begitu patriotrik namun pengaruh dari luar sebenarnya masih tetap ada.

Darimana pun asalnya, jengki di Indonesia dan beragam cerita di baliknya tidak pernah membosankan untuk ditelusuri. Sehingga pada akhirnya bangunan ini tidak hanya menempatkan diri pada catatan sejarah, namun juga menjadi catatan bangunan yang dapat dikonservasi. Pencarian ini belum berakhir dan tidak pernah tau kapan harus diakhiri.


 Tulisan ini dibuat untuk dimuat di website platform komunitas Surabaya http://www.ayorek.org
Tulisan telah disunting oleh Ayos Purwoaji

 

Advertisements