Pengalaman Material dan Ketukangan : Sebuah Cerita Dari Workshop Bamboo ExploreAction

by kamiarsitekjengki

Oleh : Rizky Rachmadanti

Menceritakan keterlibatannya secara langsung membantu proses acara Bamboo ExploreAction di Jogjakarta bersama studio Effan Adhiwira

 DSCF1460

Material dalam sebuah arsitektur, sama halnya seperti sel pada tubuh manusia. Dengan saling berpautan, terbentuklah bagian-bagian tubuh dengan fungsinya masing-masing yang kesatuannya membentuk sebuah fungsi yang utuh.Sama halnya seperti tubuh, arsitektur yang sehat adalah arsitektur yang mampu mengolah berbagai material dengan tepat sesuai sifat dan karakternya menjadi satu kesatuan yang mampu menjalankan fungsinya secara utuh sebagai sebuah arsitektur.

Indonesia dalam perkembangan arsitekturnya memiliki beragam material yang digunakan. Mulai dari bata, beton, kaca, kayu, bambu, dan sebagainya. Di Indonesia, keberadaan arsitektur bambu mulai banyak. Keberadaan bambu di mata dunia pun mulai banyak dilirik. Salah seorang arsitek kenamaan Vietnam, Vo Trong Nghia, yang sudah banyak menghasilkan arsitektur bambunya bahkan mengatakan “Bamboo will replace other materials. Bamboo is the green steel of the 21st century.”

Sudah banyak pembahasan mengenai sifat dari material satu ini, tapi saya mencoba mengenal karakter bambu dari sudut pandang lain, bukan dengan melihat berbagai literatur tentang bambu, melainkan dengan mengenal secara langsung melalui pengalaman menukang.

“Kesadaran material, atau “material conciousness“, adalah kesadaran bekerja melalui dan dengan “perkakas” yang ada pada kita. Dengan kata lain, kesadaran seorang craftsman untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas disertai kepekaan kepada apa yang terpaut dengan “perkakas” itu, yaitu: kepekaan kepada tenaga manusia, bahan, lingkungan alam, dan semua yang konkret, berubah, dan majemuk.” [1]

Jika kepekaan kepada tenaga manusia, bahan, dan lingkungan alam adalah “perkakas” yang dibutuhkan untuk menumbuhkan kesadaran akan material, maka salah satu cara yang paling efektif untuk menumbuhkan kepekaan tersebut adalah dengan terjun langsung bekerja melalui setiap proses pengolahan material hingga menjadi sesuatu. Dari sana kita akan memahami betul bagaimana memperlakukan material sesuai dengan sifat dan karakternya.

Melalui workshop Bamboo ExploreAction misalnya, arsitek Effan Adhiwira mencoba mengenalkan karakteristik bambu kepada para peserta dengan tidak hanya melalui teori, tapi dengan mengajak para peserta untuk mengolah langsung  material bambu dengan tangan mereka sendiri. Proses pengenalan ini pun dilakukan secara bertahap dari hal yang sederhana hingga yang kompleks.

Para peserta diajak untuk memahat bambu, sebuah proses yang terdengar kurang familiar jika dibandingkan dengan memahat kayu. Proses memahat dimulai dengan menggambar pola awal pada batang bambu. Mereka dihadapkan pada berbagai pilihan alat pahat yang tersedia untuk mengukir bambu sesuai dengan polanya.

Seorang ahli pahat bambu menjelaskan kegunaan dari masing-masing alat, sekaligus mempraktikan bagaimana cara penggunaan dari masing-masing alat tersebut. Penjelasan tersebut tidak praktis membuat para peserta dapat menentukan dengan tepat alat mana yang harus digunakan untuk membuat bentuk yang mereka inginkan. Dengan mencoba sendiri proses memahat  mereka baru dapat mengetahui alat yang paling sesuai dengan karakter bambu yang digunakan dan bentuk yang diinginkan.

 DSCF0977DSCF0943d

Kegiatan memahat bambu dalam dalam workshop Bamboo ExplorAction (foto : Rizky Rachmadanti)

Selanjutnya para peserta diajak ke untuk melakukan proses pembuatan furniture bambu, sebuah metode pendekatan yang digunakan adalah learning by doing. Para peserta diajak untuk  memahami bagaimana membuat sambungan bambu model pasak dengan potongan fish mouth di ujungnya, sebuah model sambungan yang dapat mengurangi penggunaan paku. Kemudian mereka mencoba membuat rangka yang melengkung, pengalaman tersebut membuat mereka sadar akan karakter bambu yang sangat fleksibel. Walaupun para peserta mengerti bahwa mereka sedang mengolah material menjadi sesuatu, namun tanpa disadari mereka mulai memahami sifat dan karakteristik material yang sedang mereka olah dengan menjadi tukang untuk mereka sendiri.

 DSCF0992DSCF0986

 Kegiatan membuat furniture bambu oleh peserta workshop (foto : Rizky Rachmadanti)

“Dalam ketukangan di Indonesia, arsitek hadir sebagai salah satu pelaku dalam proses kerja dan dengan segara terlibat dengan material yang tersedia di negeri ini. Ia hadir bukan sebagai subyek yang otonom, melainkan sebagai “tukang” yang bergulat dan menempatkan dirinya dalam menghadapi dan bereaksi terhadap keberlimpahan maupun keterbatasan sumber daya. Dalam hal ini, arsitek adalah variabel sejarah. Ia terlibat di dalam proses, tapi bukan yang menentukan sepenuhnya.”[2]

Sepertinya hal yang perlu dicapai adalah terlibatnya perancang secara langsung ke dalam proses pengolahan material sebuah konstruksi arsitektur, dengan begitu seorang perancang akan lebih peka dalam mengambil keputusan desain yang berkaitan dengan material.

Oleh karena itu, bagian lain yang menjadi penting dari upaya menumbuhkan kesadaran material dalam workshop ini adalah pada saat para peserta ditantang untuk membuat sesuatu yang lebih besar. Sebuah karya yang menunjukkan bahwa bambu dapat digunakan sebagai struktur bentang lebar. Para peserta diajak untuk mengeksplorasi desain naungan bambu dengan bentang lebar.

DSCF1423 DSCF1422 4

 Proses konstruksi naungan bambu bentang lebar dengan cara tradisional (foto : Rizky Rachmadanti)

Pemahaman akan material dilalui tahap demi tahap dalam proses konstruksi. Mulai dari mengukur besar lengkungan bambu yang memiliki bentang 17 meter misalnya, dapat dipelajari bahwa dalam tahap pengukuran secara manual ketelitian itu penting. Kemudian dari memilah-milah batang bambu akan diketahui bahwa bambu yang baik adalah yang arah lengkungannya hanya satu. Dari belajar melengkungkan batang bambu menggunakan gergaji di tiap buku-bukunya, dapat  disadari bahwa batang bambu yang besar pun bisa sangat fleksibel untuk dilengkungkan.

Setelah para tukang mengajarkan bagaimana cara menyambungkan antara satu bambu dengan yang lain, dapat dipahami bahwa titik beban pada sebatang bambu terletak pada buku-bukunya sehingga dapat ditentukan posisi yang tepat untuk letak sambungan. Dari menyusun beberapa bambu untuk membentuk lengkungan dengan bentang 17 meter, dapat dipahami bahwa bambu memiliki kepala (bagian atas) dan kaki (bagian bawah). Untuk menyambungkan antar batang bambu harus mempertemukan antar kepala dan antar kakinya. Bagian kaki menjadi bagian paling ujung dari lengkungan yang akan menjadi tumpuan beban, sama seperti hakikat hidup sebuah pohon yang memiliki batang besar di bagian bawah sebagai dasarnya dan mengecil dibagian atas. Inilah kepekaan terhadap material yang baru disadari setelah melewati dan menghargai setiap proses konstruksi.

 DSCF1381 DSCF1380

Proses belajar peserta yang dipandu para tukang (foto : Rizky Racmadanti)

Selain memperkenalkan karakteristik material bambu, kegiatan ini telah menjadi strategi yang cukup baik dalam meningkatkan produktivitas pekerja, memaksimalkan penggunaan material lokal, dan memberdayakan kembali tradisi. Dengan memahat bambu para peserta belajar mengenal karakter bambu dari sifat yang paling sederhana, dengan membuat furniture peserta belajar bagaimana mengolah material lokal menjadi sesuatu yang berfungsi, melalui kerjasama tim dalam membangun sebuah bangunan arsitektur dengan cara tradisional berarti telah terjadi pemberdayaan tradisi dengan hal yang sederhana.

Apresiasi terhadap keahlian tukang yang datang dari para peserta berhasil meningkatkan produktivitas para tukang. Keterlibatan peserta dalam menukang pun secara langsung menjadikan mereka sebagai pekerja yang intensif dan memahami bahwa sebagai arsitek pemahaman terhadap material bisa didapatkan apabila ada keterlibatan langsung ke dalam setiap proses konstruksi. Dengan demikian mereka yang terlibat dapat lebih peka memahami segala sesuatu yang ada di dalamnya. Hal-hal tersebut yang mencirikan perkembangan arsitektur di Indonesia, di satu sisi pembangunan gedung-gedung berteknologi dengan pesatnya dan di sisi lain pembangunan dengan cara tradisional masih bertahan.

 10507010_832843613404808_5632853887266660079_o

Proses menukang peserta workshop (foto : dokumentasi cupudalang)

Maka dari pengalaman ini dapat dikatakan bahwa hanya dengan terlibat secara mendalam dengan kehidupan dan kerja yang erat bertaut dengan material (ada yang menyebutnya material culture), arsitek akan lebih peka terhadap ketukangan. Merupakan sebuah proses yang berjalan beriringan, antara mendalami material culture untuk menumbuhkan kepekaan terhadap ketukangan, ataupun sebaliknya, mendalami kerja yang berkaitan dengan ketukangan untuk menumbuhkan kepekaan terhadap material.

DSCF1566 DSCF1558 DSCF1542

Paviliun karya peserta workshop (foto : Rizky Rachmadanti)

 


[1] Avianti Armand dalam bahan kuratorial Venice Architecture Biennale 2014

[2] Avianti Armand dalam artikelnya tentang ketukangan yang dimuat di dalam http://www.konteks.org

Advertisements