Tentang Ruang Jual Beli

by kamiarsitekjengki

Oleh : Rifandi Septiawan Nugroho

Catatan Kajian Arsitektur Jumat #01 tentang Ruang Jual Beli

20140917_093937

Pasar Wagen di Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Saya mengalami ketertarikan untuk membahas ruang jual beli setelah pulang dari Klaten, Jawa Tengah, akhir bulan lalu. Pada Kajian Arsitektur Jumat pertama bersama teman-teman KAJ, saya mengajak untuk mengangkat tema tersebut. Barangkali dari cerita singkat pengalaman baru saya isu ini menjadi menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Ada beberapa fenomena unik yang terjadi ketika kami berdiskusi. Latar belakang kami yang berbeda-beda baik dari sisi daerah asal, kelas sosial, dan pengalaman jual beli menambah keragaman pustaka kami tentang ruang jual beli itu sendiri. Berikut ini adalah sedikit ulasan tentang ruang jual beli dalam Kajian Arsitektur Jumat yang pertama.

Saya mengawali dengan cerita akan ketertarikan saya dengan apa yang terjadi di Klaten. Ketika saya berkunjung ke sana, bertepatan pada hari Wage menurut pasaran Jawa. Pada hari tersebut, giliran pasar Keden di kecamatan Pedan menggelar ruang jual beli. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah pasar Wagen, maksudnya pasar yang buka di hari Wage. Saya takjub saat melihat banyaknya orang yang datang ke sana, baik untuk menjual atau untuk membeli kebutuhan. Kebutuhan yang dijual mulai dari perkakas rumah tangga hingga hewan ternak. Pasar harian ini buka hanya pada hari Wage, pada hari lainnya pasar ini tutup dan ada pasar lain yang buka, begitu seterusnya setiap hari. Pasar semacam ini menjadi perayaan bagi masyarakat di sana, bukan sekedar ruang jual beli biasa.

Cara berjualannya pun beragam. Ada yang memang sengaja menyediakan meja untuk meletakan barang dagangan, ada yang dibiarkan di bawah, ada juga yang digantungkan di dinding-dinding atau pagar rumah orang. Saya juga kemudian teringat dengan pasar yang ada di daerah Sumbawa Barat, kebetulan saya pernah berkesempatan melewatinya dan tipe cara berjualan dengan duduk di bawah bersama barang dagangan sama seperti yang terjadi di sana. Bedanya, pasar yang kebetulan saya temui di Sumbawa Barat menjual kebutuhan pokok dan hasil panen saja, tidak beragam seperti pasar Wagen di Klaten.

IMG_0598

Pasar kebutuhan pokok dan  hasil panen di Sumbawa Barat (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Ketertarikan saya ini tidak seperti yang dirasakan oleh salah seorang teman asal Bali yang di kesehariannya terbiasa membantu orang tua untuk menjaga toko milik keluarga. Setiap hari ia merasakan pengalaman jual beli, sehingga hal itu tidak asing baginya. Hanya barang baru dan pengunjung yang baru yang membuat menarik dalam pengalaman jual belinya. Kebiasaan dia menunjukan bahwa hal yang biasa terjadi, tidak menjadi istimewa lagi seutuhnya. Hanya menjadi sebuah pengalaman kolektif yang mungkin dapat terulang terus menerus hingga tidak ada unsur lain yang mempengaruhi suasana menjadi baru.

Seorang teman asal Mojokerto  memiliki pengalaman lain lagi. Ia melihat fenomena ruang jual beli yang terjadi di pinggir jalan raya di kota Mojokerto, atau biasa dikenal dengan istilah pasar kaget. Pasar semacam ini ada di banyak tempat dan selalu mengundang banyak orang untuk datang. Ketika ia datang ke Surabaya (menurutnya adalah kota besar), ada fenomena yang sama seperti pasar kaget di Mojokerto, yakni pasar malam. Tapi pengunjungnya berasal hanya dari kalangan tertentu saja, biasanya kelas sosial menengah ke bawah. Baginya, ada sensasi lain yang membuat belanja di pasar tradisional tidak begitu nyaman, terutama dirasakan oleh indera penciuman dan visual. Di pasar tradisional, kotor dan bau adalah hal yang lazim untuk dirasakan.

Lain lagi di Medan, di sana pasar memiliki sebutan pajak. Seorang teman berdarah Batak mengaku penasaran dengan adanya sebutan tersebut. Kawan lain asal Medan memberi penjelasan singkat dari sebutan tersebut. Menurutnya pajak adalah istilah yang dipakai kemungkinan berasal dari kebiasaan pemungutan biaya “pajak” yang dilakukan oleh orang setempat. Ia menambahkan ceritanya dengan apa yang dilihatnya dari penjual tenun di daerah danau Toba. Para pengrajin mengaku akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar apabila tenunnya dijual langsung kepada pembeli yang sedang berkunjug ke desanya ketimbang dijual ke luar desa. Penyebabnya adalah distributor meminta potongan harga yang sangat besar, bisa lebih dari separuh harga yang biasa ia jual langsung di desanya. Namun demikian, distribusi keluar desanya tetap dilakukan demi memenuhi kebutuhan hiup. Karena penjualan di desa tidak menentu, tergantung jumlah pengunjung yang datang. Cerita di Medan menunjukan bahwa pasar telah memainkan peranannya sebagai penata aturan sosial. Ada hirarki yang terjadi dari mulai produsen, distributor, konsumen, maupun elemen lain yang mempengaruhi jalannya proses jual beli. Tidak lagi sekedar mempertemukan penjual dan pembeli lalu bertransaksi di sana.

Dari sudut pandang strata sosial, ruang jual beli juga bisa menjadi ruang yang mengklasifikasikan karakter setiap strata sosial tersebut. Ruang jual beli tanpa disadari bisa menjadi nyaman bagi sekelompok orang dan bisa menjadi sangat tidak nyaman bagi kelompok lainnya. Menurut kawan asli Surabaya, di kota itu ada pasar yang menjadi destinasi favorit etnis tionghoa untuk berbelanja kebutuhan, ada mall yang banyak dikunjungi orang pinggiran Surabaya, ada juga mall bermaterial kinclong dengan beragam retail merk impor yang biasa dikunjungi kalangan menengah atas. Bahkan di salah satu buku tulisan platform komunitas Surabaya ada artikel yang menuliskan tentang ciri-ciri pengunjung di beberapa mall di Surabaya.[1] Di dalamnya digambarkan cara berpakaian hingga aksesoris yang digunakan dalam bentuk karikatur. Bingkai yang jelas telah memberikan batas imajiner untuk tiap orang dalam memenuhi kebutuhannya.

Namun klasifikasi ini tidak selalu terjadi, menurut salah seorang kawan yang juga berasal dari Surabaya ada kasus dimana pembeli dari kalangan menengah ke atas rela naik mobil untuk ke pasar tradisional di Pasar Semolo. Hanya saja yang membedakan adalah, bagaimana pembeli itu memilih kostum yang cocok untuk menyesuaikan diri dengan keadaan pasar. Kejadian seperti ini bisa disebabkan adanya hubungan yang kuat antara pembeli dan penjual. Penjual mampu memikat pembeli untuk merasa nyaman jika berbelanja di sana. Misalnya apa yang dilakukan oleh ibu dari seorang teman asli Surabaya. Ia lebih memilih berbelanja ke satu toko yang sama meskipun toko lain mampu menjual barang yang sama dengan harga yang sama. Menurut pengakuannya, bahkan ibunya rela menunggu barangnya datang lagi ketika stoknya habis. Sebuah hubungan sosial yang sangat baik telah terjalin antara penjual dan pembeli.

Berawal dari hubungan sosial yang baik pula seorang penjual kue akhirnya dapat menjadi sumber inspirasi satu wilayah kampung di Surabaya. Di pasar kue rungkut,  awalnya hanya ada satu penjual kue. Kemudian orang tersebut mengajak tetangganya untuk memproduksi kue juga seperti dirinya. Kampung tersebut kini menjadi produsen kue di berbagai wilayah di Surabaya. Hubungan saling menguntungkan ini tidak dapat terjadi tanpa ada jalinan sosial yang baik sebelumnya. Ada rasa saling percaya dari interaksi yang sebelumnya sudah tercipta. Begitulah gambaran ruang jual beli dengan latar belakang kesadaran sosial yang berada di dunia nyata.

Di zaman sekarang yang diiringi dengan kemajuan teknologi bahkan proses jual beli bisa jadi tidak perlu lagi dilakukan dengan bertatap muka. Toko-toko online, forum jual beli, dan media lainnya memberikan kesempatan untuk melakukan proses transaksi dengan berlandaskan rasa saling percaya. Tidak jarang nilai transaksi yang dilakukan sangat tinggi. Cukup menekan tombol di peranti komunikasinya, pembeli dan penjual menyepakati harga, barang akan datang ke alamat tujuan. Resiko yang ditawarkan pun tidak kecil, banyak yang apes tertipu dengan menggunakan metode ini dalam proses jual beli.

Jual beli tanpa bertemu sangat kontras dengan pengalaman kawan saya yang semasa kecilnya sering main ke rumah kakek neneknya di desa. Di sana, para pedagang bergerobak keliling dari gang ke gang setiap harinya. Penduduk bahkan bisa menghafal beragam jenis penjual yang lewat pada waktu-waktu tertentu. Sehingga dalam memenuhi kebutuhan, penduduk desa cukup menunggu pedagang yang akan lewat dalam waktu tertentu dan bertransaksi di depan rumah. Bukan lagi pembeli yang mencari penjual, tetapi penjual yang menghampiri pembeli. Penduduk kenal satu per satu dengan para pedagang, hubungan kekeluargaan bahkan tak hanya berakhir di proses jual beli. Jika sewaktu-waktu pedagang atau pembeli ada hajatan misalnya, pasti mereka saling mengundang dan menghadiri hajatan itu.

Ada beberapa kesamaan dan kontradiksi di dalam perspektif tentang ruang jual beli ini. Dari beberapa perspektif tersebut saya menyimpulkan dan menyederhanakannya ke dalam beberapa tipe ruang jual beli itu sendiri. Mulai dari ruang tanpa batas fisik seperti jual beli secara personal antar individu, ruang yang bergerak seperti pedagang bergerobak di desa-desa, ruang dengan batas fisik yang jelas seperti pasar dan pusat perbelanjaan, dan ruang maya yakni jual beli online. Adapun kegunaannya secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu sebagai pengakomodasi kebutuhan dan sebagai perayaan. Pengakomodasi kebutuhan meliputi pasar sehari-hari, toko online, makelar, bahkan dapat termasuk pula prostitusi dan semacamnya. Sedangkan untuk perayaan yakni yang bersifat eventual seperti festival, bazar, pasar harian, dan sebagainya.

Terkait efek positif atau negatif dari ruang jual beli, pembaca sendiri yang dapat menentukan. Masing-masing telah memiliki fungsi dan tujuannya sendiri. Hanya saja kita yang perlu menyadari bahwa ada hal yang tanpa disadari telah kita anggap biasa dalam proses berjual beli, hal itu menjadi positif atau menjadi negatif tergantung konteksnya.


Narasumber Kajian Arsitektur Jumat #01

Rifandi S Nugroho, I Putu Adi Garbha, Ferry Ardiansyah, Ganis Ryandi, Fransis Sialagan, Frederikson Tarigan, Astri Isnaini Dewi, Rizky Darmadi, Faisal Rizaldy, Harzha Syafarian, Firdiansyah Fathoni,

[1] Salah satu artikel dalam majalah SUB Versi terbitan ayorek, artikel tentang tipe-tipe pengunjung mall di Surabaya

Advertisements