Bercerita dan Bercitra Lewat Media

by kamiarsitekjengki

Oleh: Astri Isnaini Dewi

Saat ini, kita hidup di zaman yang menjengkelkan. Sebuah zaman di mana segalanya meluap-luap serba berlebihan. Termasuk arus informasi. Mau tidak mau, suka tidak suka, dalam dua puluh empat jam hidup kita setiap hari, ada luberan informasi yang harus kita terima. Hampir mustahil bagi kita untuk menghindarinya. Kecuali pasrah dengan bombardir citra yang datang setiap detiknya.

Berbagai informasi tersebut kita terima melalui perantara media. Pada era digital seperti saat ini, kemampuan media untuk mengirimkan pesan adalah luar biasa. Kisah yang terjadi di belahan bumi lain, dapat kita terima dalam hitungan menit, bahkan detik. Media mampu melipat jarak dan waktu. Menjadikan dimensi fisik menjadi nisbi.

Di tengah derasnya arus informasi dan percepatan konsumsi terhadap pengetahuan baru, bagaimana sebaiknya kita membaca media? Di manakah posisi media arsitektur dewasa ini? Topik-topik tersebut menjadi perbicangan yang menarik di forum Pengajian Kami Arsitek Jengki ketiga, beberapa waktu yang lalu.


Media dan Arsitektur

Beberapa arsitek besar seperti Koolhaas, Tschumi, maupun MVRDV berpendapat bahwa desain adalah sebuah bentuk pemikiran yang layak disampaikan. Mengalirkan sebuah pemikiran adalah perlu, baik kepada yang orang awam, maupun sesama ahli. Baik untuk fungsi edukatif, atau pun sebagai konstruksi sebuah paradigma. Berbagi ide, sebagai satu dari moda penting perputaran siklus hidup arsitektur, turut memanfaatkan media sebagai perantara. Sekiranya begitu paparan dari ORDES Arsitektur yang diwakili oleh Defry Agatha dan Endy Yudho malam itu.

Frank Gehry (Sumber: http://archdaily.com

Frank Gehry (Sumber: http://archdaily.com)

Hubungan baik antara arsitektur dan media, mendorong munculnya subjek baru berjudul ‘publikasi arsitektur’. Adanya sebuah peran dibalik sosok media, sedikit demi sedikit mulai terbuka. ORDES memberikan gambaran dalam, film Tomorrow Never Dies, di mana James Bond menghadapi tokoh antagonis seorang raja media yang menggunakan kekuatan informasi sebagai alat untuk tujuan jahat. Gambaran tersebut seolah menjadi pembenar banyaknya wajah dan kepentingan dibalik konsep ‘media’.

Salah satu wajah media di dunia arsitektur dapat terwakili oleh architecture bible nowadays, ArchDaily. Sebuah media online yang tidak berhenti menghadirkan potret baru karya arsitektur dari seluruh dunia setiap harinya. ArchDaily, maupun berbagai media arsitektur online lainnya, akhirnya menjadi prototip sebuah gebrakan untuk menghadirkan ‘rasa’ arsitektur tanpa harus hadir merasakan karya tersebut secara langsung. Kehadiran media mewakiliki kehadiran kita. Media pun menjadi perpanjangan indera manusia dalam mencerap sebuah karya arsitektur.

Dari situ, terdapat banyak kemungkinan. Salah satunya adalah banalitas, yang muncul akibat rasa bosan terhadap bangunan eksentrik apabila setiap harinya kita disodori hal yang tidak jauh berbeda. Media mampu mengaburkan selera, menyatu dengan utopia, melebur dengan kenyataan. Hingga benar dan salah tidak dapat didefinisikan.

Sedikit banyak, publikasi arsitektur turut membangun konstruk paradigma masyarakat mengenai arsitektur. Kemegahan arsitektur dan gemerlap urban mancanegara menjadi virus yang menyerang pertahanan arsitektur di Indonesia. Sehingga lahirlah gaya-gaya arsitektur yang kini terdengar janggal dan asing seperti Classic Modern, Modern Minimalis, Minimalis Tropis, maupun bangunan-bangunan unik seperti Rumah Botol Ridwan Kamil, hingga Dome Teletubbies di Jogjakarta.


Di Balik Layar

Era kebebasan media juga menjadi penanda kebebasan kreasi masyarakat Indonesia. Perannya sebagai ‘penyambung lidah rakyat’ menjadi wadah bagi pelaku kreatif untuk mengomunikasikan kreasinya. Konon, media juga dapat berperan sebagai moda untuk mengedukasi rakyat. Namun, di era teknologi yang serba cepat tepat, kebebasan media kembali dipertanyakan keabsahannya. Sejauh mana kecepatan dapat mempengaruhi kebenaran atas subyek yang ditampilkan? Apalagi kita sadar betul bahwa kemampuan untuk melakukan verifikasi masih sangat lemah dalam tradisi media di Indonesia.

Knowledge is Power (Sumber: http://themetapicture.com)

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan, karena kita tahu bahwa sebagian besar media di Indonesia terkait erat dengan subjektifitas segelintir kepentingan. Bias pun tidak terelakkan. Karena tidak dapat dimungkiri bahwa media dijalankan dengan logika industri. Di mana setiap kepala memiliki keterkaitan dengan kepala lainnya. Hal ini mendorong munculnya bias kepentingan melalui konstruksi berita-berita yang disampaikan.

Seperti contoh di bidang kesehatan, ketika ada kisah tentang seorang miskin papa yang kehilangan haknya akan asuransi kesehatan, meskipun ia lama menderita sebuah penyakit yang berat. Subyek seperti itu adalah hal yang ‘biasa’ dan tidak akan disorot media. Bisa jadi karena news value-nya yang lemah, atau karena mungkin pemberitaan tersebut akan menjatuhkan beberapa pihak. Bias-bias semacam itu tentu tidak terelakkan. Meski fakta adalah sebuah kepastian, namun beragam fakta-fakta yang didapat harus ‘disaring’ dulu, untuk ‘disimpan’ dan kemudian ‘dikonstruksi ulang’. Konon istilah “you write what you’re told” benar adanya. Begitulah yang disampaikan Ika, seorang wartawan sebuah harian di Surabaya, yang turut hadir dalam diskusi malam itu.

Masing-masing media memiliki visi yang sekiranya tercermin dalam angle yang diambil dalam publikasinya. Para pembaca dengan latar belakang yang berbeda-beda, sedikit banyak akan diarahkan untuk dapat memahami sudut pandang penulis. Sehingga kadang, persepsi akhir pembaca pun, dapat menjadi perdebatan. Hal tersebut dipengaruhi oleh perbedaan sumber bacaan yang diambil, latar belakang pendidikan, bahkan hubungan personal terkait dengan subjek yang diangkat. Sebuah gambaran rekonstruksi paradigma masal yang cepat.


Pengaruh Visual dalam Media

Lain lagi ketika membahas fotografi sebagai sebuah bentuk media. Ayos Purwoaji, seorang fotografer dan penulis perjalanan, mengamati betapa kuatnya pengaruh visual dalam penyebaran sebuah informasi. Foto, dapat memiliki kekuatan yang melebihi sinema. Karena konstruksi pengetahuan dalam selembar foto hanya tersaji dalam sebuah bangunan tunggal. Tidak didukung dengan gambaran sekuensial lain seperti sinema. Sehingga tafsir akan sebuah foto dapat berkembang lebih luas kerena melibatkan imaji dan pengalaman dari pemirsa.

321681c

Ironi (Sumber: http://someecards.com)

Hadirnya berbagai perangkat pembuat gambar (seperti ponsel pintar atau kamera digital) dan piranti lunak untuk membagi citra (sosial media semacam Path atau Instagram), adalah fakta yang menyadarkan bahwa kita kini berada di abad visual. Istilah “no pic hoax” menjadi sebuah kalimat interogatif yang melekat di masyarakat pengguna teknologi masa kini. Atau kata “instagrammable” menjadi absah diucapkan untuk menandai obyek tertentu yang memiliki nilai fotografis. Penyebaran informasi pun mengalir seperti tsunami yang menerjang siapa saja, membabibuta. Kita tidak dapat menentukan informasi apa yang akan tampil di layar linimassa. Mau tak mau kita mencerna semua. Betapa ketika sebuah berita di Path yang seharusnya privat, namun lagi-lagi dalam sebuah media, siapa yang bisa menjamin apa dibaca oleh siapa?

Prof. Josef Prijotomo akhirnya berbicara di penghujung pengajian malam itu. Baginya seluruh sektor kreatif kita memerlukan media sebagai lahan berkreasi dan berbagi. Begitu pun dunia arsitektur yang mampu melahirkan bidang baru, publikasi arsitektur. Di mana dampaknya membuat orang semakin mabuk dalam berarsitektur. Perpindahan era modern ke era pos-modern kini, terdapat peran media dalam menghantarkan kemelut dan berbagai pandangan agar dapat dipahami berbagai khalayak. Kemajuan pemikiran kita sekarang pun tidak lepas dari peran media.

Sedangkan di sisi lain, sektor kreatif dipengaruhi pula –dalam penyampaian, pasar, maupun dasar ide– oleh media. Perubahan-perubahan yang terjadi mendorong pertanyaan-pertanyaan akan peran komunikasi dan edukasi yang dikandung oleh media. Komunikasi media kini, sekali lagi, dapat berupa sebuah packaging manis akan suatu hal. Secara edukasi pun, benar dan salah menjadi relatif. Berkurangnya kebiasaan belajar dan membaca akan membuat khalayak terus menerus mengamini apapun untuk kemudian dianggap benar.


Tapi, bila media telah memiliki masterplan dalam berita yang ia sampaikan, dalam tujuan-tujuan pribadi yang ingin ia capai, kita tidak boleh lengah dan melupakan bahwa kita pun bisa berperan dalam kondisi yang bias. Masyarakat sebagai penerima informasi, memiliki peran partisipasi yang tinggi dalam penyebaran berita oleh media. Kita memiliki banyak pilihan ketika kita bersinggungan dengan media. Menyebarkan yang kita anggap baik, meninggalkan yang tidak baik, menyerap sebagian, maupun memberikan kritik sebagai dorongan perubahan. Hadirnya media juga memberikan kita sisi positif melalui menyebarnya ide dan pengetahuan dengan mudah, namun sekali lagi penyaringan memang sangat diperlukan.

Kita harus lihai memainkan peran kita sebagai pemberi, maupun penerima informasi. Ketika kebebasan mampu mewadahi kreativitas masyarakat, maka sudah seharusnya masyarakat mampu menyikapinya dengan kritis dan kreatif.

Namun lagi-lagi, penyampain di atas pun berupa media kreativitas saya mengungkapkan argumentasi. Tidak ada fakta, hanya setumpuk interpretasi. Bisa jadi, saya pun memiliki tujuan tertentu dalam menuliskan ini semua. Benar, atau benar?

Advertisements