Bumi Pemuda Rahayu – 14 Oktober 2015 (01)

by kamiarsitekjengki

Malam 01. 14 Oktober 2015.

Jogjakarta akan menjadi rumah saya dalam dua bulan kedepan. Sebuah keputusan yang impulsif ini saya putuskan tepat ketika nilai sidang tugas akhir saya keluar. Hampir setiap malam saya memutar otak untuk merencanakan proyek apa yang akan saya bawa ke Bumi Pemuda Rahayu.

Bumi Pemuda Rahayu adalah sebuah pusat pembelajaran lestari, yang dibangun oleh Rujak Center of Urban Studies, Arkom Jogja, dan KUNCI Cultural Studies. Saya sebagai salah satu penikmat fenomena urban, sangat menanti-nanti kesempatan unik seperti ini datang. Kapan lagi kita dibayar untuk belajar? Selengkapnya tentang BPR dapat disimak di http://bumipemudarahayu.org

Pembukaan residensi dilaksanakan tanggal 15 Oktober namun saya memutuskan untuk hadir satu hari sebelumnya. Saya berangkat dari Stasiun Malang pukul 08.00 dan tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 16.00. Setibanya di Jogja saya dijemput oleh Pak Agung, yang rupanya sudah menjadi langganan teman-teman BPR untuk pergi dari Dlingo ke Kota, ataupun sebaliknya. Sebelum menjemput saya, Pak Agung sudah terlebih dahulu menjemput residen lain di Bandara. Kali ini peserta dari Kupang, Dicky Senda.

Pak Agung rupanya bukan sembarang driver. Sembari mengantar dan menjemput berbagai subjek dari kota ke Dlingo, ia rupanya mengenal banyak dan belajar banyak. Sebut saja bos Rujak, Marco Kusumawijaya, penulis terkenal Ayu Utami, dan orang-orang hebat—yang beliau sebut Aneh!, ia kenali dan hafalkan. Begitupula dengan caranya mengenal saya dan mas Dicky. Bahkan dalam perjalanan 40 menit menuju Dlingo, saya sudah belajar untuk menginjak-injak jiwa pemalu saya yang berlebihan ini.

Setibanya di Dlingo, saya bertemu dengan Pak Sarbini. Beliau yang membantu kami untuk masuk ke kamar, dan menjaga di BPR ketika malam. Kemudian kami melanjutkan dengan makan malam.

Kedatangan saya rupanya bersamaan dengan hari terakhir workshop menganyam bamboo bagi masyarakat lokal, dengan mentor Shimitzu, asli lokal Jepun. He can’t even stand a day not touching bamboo. Right at the day he arrived in Jogjakarta, he began to work literally in the same day. Such a spirit.

Dan sepanjang malam pertama saya di Dlingo saya habiskan untuk menikmati saja, tanpa mendokumentasikan suatu apapun. Kemudian di penghujung tulisan saya mencatat PR untuk diri saya sendiri, mendokumentasikan selfie bersama orang-orang yang saya tuliskan sepanjang perjalanan saya kedepan.

Saya belum akan menceritakan proyek yang akan saya kerjakan. Dalam waktu dekat, saya akan terus mengisi blog kamiarsitekjengki dengan cerita residensi saya. Dari orang-orang yang saya temui, begitupula kegiatan yang kami lakukan. Semoga berkenan.

Advertisements